Analisis Faktor Penyebab Ketidaklengkapan dan Ketidakakuratan Kodefikasi Kasus Neoplasma di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada Jember
DOI:
https://doi.org/10.47134/phms.v3i3.682Keywords:
Individu, Ketidakuratan, Kodefikasi, Neoplasma, Organisasi, PsikologiAbstract
Kode yang lengkap pada diagnosis Neoplasma harus mencantumkan kode topografi dan morfologi berdasarkan ICD. Kode topografi adalah kode yang menggambarkan tempat asal neoplasma, sedangkan kode morfologi adalah kode yang menggambarkan jenis sel tumor dan aktivitas biologisnya. Berdasarkan observasi di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada Jember ditemukan 73% rekam medis yang memiliki kode topografi tidak lengkap sesuai ICD-10 dan 100% tidak lengkap karena tidak terdapat kode morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab ketidaklengkapan dan ketidakakuratan kodefikasi kasus Neoplasma. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan terdiri dari 3 koder rawat inap, 1 dokter spesialis onkologi, dan 1 kaur yanmed. Prioritas masalah menggunakan metode Skoring dengan upaya perbaikan menggunakan metode brainstorming. Hasil penelitian berdasarkan variabel individu yaitu pengetahuan petugas yang kurang. Variabel psikologi yaitu sikap dokter yang tidak segera mengisi diagnosis penyakit dan tidak menulis diagnosis secara spesifik, pelatihan belum merata, tidak adanya Reward dan Punishment. Variabel organisasi yaitu tidak terdapat SPO Kodefikasi Neoplasma, belum adanya monitoring dan evaluasi. Solusi permasalahan yaitu meminta bantuan pihak lain yang terkait untuk mengingatkan dokter dalam pengisian diagnosis, diadakan kegiatan yang menambah pengetahuan petugas seperti workshop/pelatihan secara merata terkait kodefikasi diagnosis kasus Neoplasma.
References
[1] F. K. Cinkwancu, F. R. R. Maramis, and R. Kolibu, “Analisis Pengelolaan Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih Manado,” Jurnal KESMAS, vol. 7, no. 4, pp. 1–11, 2018.
[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Jakarta, Indonesia, 2022.
[3] S. F. Nabila, D. S. H. Putra, S. Farlinda, and E. T. Ardianto, “Analisis Faktor Risiko pada Penyakit Karsinoma Paru (C34) Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Baladhika Husada Jember,” J-REMI: Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, vol. 2, no. 2, pp. 244–254, 2021. DOI: https://doi.org/10.25047/j-remi.v2i2.2197
[4] H. Asari, L. R. Ilmi, and N. Intan, “Kelengkapan dan Keakuratan Pemberian Kode Diagnosis Kasus Neoplasma,” in Prosiding Seminar Rekam Medis dan Informasi Kesehatan: Inovasi Teknologi Informasi untuk Mendukung Kerja PMIK dalam Rangka Kendali Biaya di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 2020, pp. 39–43. Available: https://publikasi.aptirmik.or.id/index.php/procinovasiti/article/view/75
[5] M. R. Muis, J. Jufrizen, and M. Fahmi, “Pengaruh Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Karyawan,” Jesya: Jurnal Ekonomi dan Ekonomi Syariah, vol. 1, no. 1, pp. 9–25, 2018. DOI: https://doi.org/10.36778/jesya.v1i1.7
[6] N. R. Silaen, Syamsuriansyah, and R. Chaerunnisah, Kinerja Karyawan. Bandung, Indonesia: Widina Bhakti Persada, 2020.
[7] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/5675/2021 tentang Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan Tahun 2021–2025,” Jakarta, Indonesia, 2021.
[8] E. H. Nugraheni and D. Ernawati, “Tinjauan Pengetahuan Petugas Rekam Medis tentang Terminologi Medis dan Penentuan Kode Penyakit di RSUD Kota Semarang,” 2022.
[9] A. Maharani and K. K. Saptorini, “Tinjauan Keakuratan Kode Topografi Kasus Neoplasma di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang,” VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat, vol. 18, no. 2, pp. 53–59, 2020.
[10] Sudirman et al., “Analisis Tingkat Masa Kerja terhadap Motivasi Kerja Tenaga Kesehatan pada Masa Pandemi COVID-19,” Holistik Jurnal Kesehatan, vol. 17, pp. 352–357, 2023.
[11] N. T. Saputro, “Hubungan antara Pengetahuan Terminologi Medis Petugas Rekam Medis dengan Ketepatan Kode Diagnosis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta,” Undergraduate Thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia, 2016.
[12] S. Sari, T. Purnama, and W. V. Trisna, “Analisis Pengetahuan Petugas Rekam Medis tentang Terminologi Medis di RSUD Petala Bumi Provinsi Riau,” Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, vol. 7, no. 1, 2019. DOI: https://doi.org/10.33560/jmiki.v7i1.206
[13] J. Pertiwi, “Systematic Review: Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Koding Diagnosis di Rumah Sakit,” in Seminar Nasional Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (SMIKNAS), 2019, pp. 41–50.
[14] L. Gouw and L. Indawati, “Tinjauan Kompetensi Koder dalam Penentuan Kode Penyakit dan Tindakan Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati,” Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM), vol. 5, no. 1, 2017. DOI: https://doi.org/10.47007/inohim.v5i1.122
[15] W. Kurnianingsih, “Hubungan Pengetahuan Coder dengan Keakuratan Kode Diagnosis Pasien Rawat Jalan BPJS Berdasarkan ICD-10 di Rumah Sakit Nirmala Suri Sukoharjo,” Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan, vol. 3, no. 1, pp. 18–24, 2020.
[16] P. Megawanti, E. Megawati, and S. Nurkhafifah, “Persepsi Peserta Didik terhadap PJJ pada Masa Pandemi COVID-19,” Jurnal Ilmiah Kependidikan, vol. 7, no. 2, pp. 75–82, 2020. DOI: https://doi.org/10.30998/fjik.v7i2.6411
[17] F. Supriatna, “Gambaran Kualitas Kodifikasi Rekam Medis Rawat Inap Kasus Kanker Payudara di Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi Tahun 2020,” Indonesian Journal of Health Information Management, vol. 2, no. 1, pp. 1–5, 2022. DOI: https://doi.org/10.54877/ijhim.v2i1.24
[18] E. Setyowati, “Analisis Faktor Penyebab Pending Klaim BPJS Rawat Inap di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya,” Diploma Thesis, Politeknik Negeri Jember, Jember, Indonesia, 2016.
[19] R. N. Karimah, D. Setiawan, and P. S. Nurmalia, “Analysis of Diagnosis Code Accuracy Based on Medical Record Documents in Balung Hospital Jember,” Jurnal Agromedicine dan Medical Sciences, vol. 2, no. 2, pp. 12–17, 2015. DOI: https://doi.org/10.19184/ams.v2i2.2781
[20] S. J. Swari, G. Alfiansyah, R. A. Wijayanti, and R. D. Kurniawati, “Analisis Kelengkapan Pengisian Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang,” Arteri: Jurnal Ilmu Kesehatan, vol. 1, no. 1, pp. 50–56, 2019. DOI: https://doi.org/10.37148/arteri.v1i1.20
[21] A. S. Wariyanti, H. Harjanti, and S. Sugiarsi, “Potret Kelengkapan Rekam Medis Puskesmas Sebelum dan Setelah Akreditasi,” Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, vol. 7, no. 2, pp. 157–166, 2019, doi: https://doi.org/10.33560/jmiki.v7i2.248.
[22] H. I. Halimatusaadah and M. Hidayati, “Analisis Kelengkapan Pengisian Rekam Medis Pasien Rawat Jalan Poli Umum Guna Menunjang Mutu Rekam Medis,” J-REMI: Jurnal Rekam Medik dan Informasi Kesehatan, vol. 3, no. 2, pp. 159–168, 2022, doi: https://doi.org/10.25047/j-remi.v3i2.2737.
[23] S. Sugiyanto, W. Widodo, W. Warijan, and R. Isnaeni, “Analisis Kuantitatif Kelengkapan Pengisian Formulir Resume Medis Pasien Rawat Inap Tahun 2015 di RSUD R.A. Kartini Jepara,” Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, vol. 1, no. 1, 2018, doi: https://doi.org/10.31983/jrmik.v1i1.3572.
[24] S. J. Swari, G. Alfiansyah, R. A. Wijayanti, and R. D. Kurniawati, “Analisis Kelengkapan Pengisian Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang,” ARTERI: Jurnal Ilmu Kesehatan, vol. 1, no. 1, pp. 50–56, 2019, doi: https://doi.org/10.37148/arteri.v1i1.20.
[25] S. Sabran, L. A. Majiida, M. Yunus, and S. D. Setiadi, “Analisis Deskriptif Informed Consent Form Rawat Inap di RSUP Dr. Kariadi Semarang,” Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI), vol. 7, no. 2, pp. 99–107, 2023, doi: https://doi.org/10.52643/marsi.v7i2.2974.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Eden Shella Abia Cayuga, Dony Setiawan Hendyca Putra, Atma Deharja, Demiawan Rachmatta Putro Mudiono

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



