Analisis Faktor Penyebab Ketidaktepatan Kodefikasi Penyakit dan Tindakan di RSUD RAA Soewondo Pati

Authors

  • Dwi Nur Setyowati Politeknik Negeri Jember
  • Novita Nuraini Politeknik Negeri Jember
  • Maya Weka Santi Politeknik Negeri Jember
  • Gandu Eko Julianto Suyoso Politeknik Negeri Jember

DOI:

https://doi.org/10.47134/phms.v2i4.748

Keywords:

Ketidaktepan, Kodefikasi Penyakit dan Tindakan, Rawat Inap

Abstract

Kodefikasi merupakan klasifikasi penyakit yang sejenis kedalam satu grup nomor  sesuai dengan  ICD 10  untuk penyakit  dan ICD 9 CM untuk tindakan. Hasil studi pendahuluan diperoleh data ketidaktepatan kodefikasi ranap sebanyak 22% dan rajal sebanyak  5% dari 60 sampel. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis faktor penyebab ketidaktepatan kodefikasi penyakit dan tindakan pasien  BPJS kesehatan ranap berdasarkan aspek predisposing, enabling, reinforcing  dan menentukan prioritas penyebab masalah menggunakan USG serta menyusun upaya perbaikan masalah menggunakan brainstorming. Jenis penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan pertanyaan tertulis, wawancara, observasi dan dokumentasi. Subyek penelitian sebagai informan utama 4 koder ranap dan informan pendukung meliputi 1 Verifikator Internal, 1 koordinator verifikator, 1 kepala RM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab ketidaktepatan kodefikasi  dari predisposing factor koder tidak paham tanda baca pada ICD, perintah omitcode sesuai PMK 26 Tahun 2021 dan kurang paham syarat penegakan diagnosis sesuai BA kesepakatan bersama. Dari enabling factor sarana, tidak tersedia AC diruang koder dan koder jarang mengikuti pelatihan koding. Dari reinforcing factor tidak ada SOP kodefikasi. Prioritas masalah yang harus diselesaikan adalah tidak adanya SOP kodefikasi, Adapun upaya perbaikan masalahanya adalah menyusun SOP kodefikasi.

References

[1] T. Situmorang, “Pengaruh Penggunaan Teknik Brainstorming terhadap Kemampuan Siswa Menulis Puisi di Kelas VIII SMP Negeri 1 Siempatnempu Kabupaten Dairi Tahun Pembelajaran 2018/2019,” Skripsi, 2018.

[2] Permenkes RI, Pedoman Manajemen Puskesmas. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan RI, 2016.

[3] S. J. Swari, G. Alfiansyah, R. A. Wijayanti, and R. D. Kurniawati, “Analisis Kelengkapan Pengisian Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang,” Arteri: Jurnal Ilmu Kesehatan, vol. 1, no. 1, pp. 50–56, 2019, doi: 10.37148/arteri.v1i1.20.

[4] J. F. Suhartono and H. S. R. Sawitri, “Pengaruh Reward, Insentif, Pembagian Tugas dan Pengembangan Karier pada Kepuasan Kerja Perawat di Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta,” Benefit: Jurnal Manajemen dan Bisnis, vol. 2, no. 1, pp. 28–44, 2017, doi: 10.23917/benefit.v2i1.3144.

[5] Kementerian Kesehatan RI, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2021 tentang Pedoman Indonesian Case Base Groups (INA-CBG) dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan. Jakarta, Indonesia: Kemenkes RI, 2021.

[6] Kementerian Kesehatan RI, Berita Acara Kesepakatan Bersama Panduan Penatalaksanaan Solusi Permasalahan Klaim INA-CBG. Jakarta, Indonesia, 2020.

[7] V. A. Isnaini, “Strategi Perbaikan Ketidaktepatan Kodefikasi Berkas Rekam Medis Pasien Rawat Jalan Berdasarkan ICD-10 dengan PDCA di Puskesmas Sukodono Lumajang,” Prosiding Seminar Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, vol. 1, no. 1, pp. 7–8, 2019.

[8] R. Hidayat and H. Hayati, “Pengaruh Pelaksanaan SOP Perawat Pelaksana terhadap Tingkat Kecemasan Pasien di Rawat Inap RSUD Bangkinang,” Ners, vol. 3, no. 23, pp. 84–96, 2019.

[9] I. M. S. Adiputra, N. L. P. Devhy, and K. I. P. Sari, “Gambaran Ketepatan Kode ICD-10 Kasus Obstetri Triwulan I pada Pasien Rawat Inap di RSUD Sanjiwani Gianyar,” Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, vol. 8, no. 2, pp. 153–160, 2020, doi: 10.33560/jmiki.v8i2.283.

[10] A. Windari and A. Kristijono, “Analisis Ketepatan Koding yang Dihasilkan Koder di RSUD Ungaran,” Jurnal Riset Kesehatan, vol. 5, no. 1, pp. 35–39, 2016.

[11] Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, Peraturan Menteri PAN-RB Tahun 2013. Jakarta, Indonesia, 2013.

[12] A. Suhenda and B. Karmanto, “Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dokter dengan Kesesuaian Koding Diagnosis Berdasarkan ICD-10 di RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon,” Media Informasi, vol. 16, no. 1, pp. 75–79, 2021, doi: 10.37160/bmi.v16i1.558.

[13] S. Notoatmodjo, Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2007.

[14] B. Pranayuda, I. Haryanti, Y. Utomo, and H. Madiistriyatno, “Analisis Penyebab Pending Klaim Pasien BPJS Kesehatan dalam Pengajuan Klaim di Rumah Sakit Umum Persahabatan,” Blantika: Multidisciplinary Journal, vol. 1, no. 4, pp. 305–313, 2023, doi: 10.57096/blantika.v1i4.44.

[15] S. Notoatmodjo, Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2014.

[16] D. Harmanto, A. Budiarti, and A. Herisandi, “Gambaran Kelengkapan Informasi Medis dan Keakuratan Kode Diagnosis di Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu,” Manajemen Informasi Kesehatan, vol. 7, no. 2, pp. 65–75, 2022.

[17] J. Pertiwi, “Systematic Review: Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Koding Diagnosis di Rumah Sakit,” in Seminar Nasional Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (SMIKNAS), 2019, pp. 41–50.

[18] A. E. Pramono, N. Nuryati, D. B. Santoso, and M. F. Salim, “Ketepatan Kodifikasi Klinis Berdasarkan ICD-10 di Puskesmas dan Rumah Sakit di Indonesia: Sebuah Studi Literatur,” Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, vol. 4, no. 2, pp. 98–106, 2021, doi: 10.31983/jrmik.v4i2.7688.

[19] I. R. R. Putri, “Analisis Faktor Penyebab Ketidakakuratan Kode Klaim BPJS Rawat Inap pada Triwulan IV Tahun 2019 di Rumah Sakit Bhayangkara Lumajang,” Tugas Akhir, Politeknik Negeri Jember, Jember, Indonesia, 2020.

[20] K. Djatiwibowo, P. Januari, and A. A. Ep, “Faktor-Faktor Penyebab Klaim Tertunda BPJS Kesehatan RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Periode Januari–Maret 2016,” Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia, vol. 4, no. 2, pp. 122–134, 2018, doi: 10.7454/arsi.v4i2.2564.

[21] A. O. Jorm and A. L. Grayson, “Accuracy of clinical coding in hospital medical records: a systematic review,” Health Information Management Journal, vol. 48, no. 1, pp. 3–12, 2019, doi: 10.1177/1833358317749577.

[22] A. Farzandipour, S. Sheikhtaheri, and F. Sadoughi, “Effective factors on accuracy of principal diagnosis coding based on International Classification of Diseases, the 10th revision (ICD-10),” International Journal of Information Management, vol. 30, no. 1, pp. 78–84, 2010, doi: 10.1016/j.ijinfomgt.2009.07.002.

[23] H. A. O’Malley, M. F. Cook, M. D. Price, K. Wildes, J. F. Hurdle, and C. M. Ashton, “Measuring diagnoses: ICD code accuracy,” Health Services Research, vol. 40, no. 5, pp. 1620–1639, 2005, doi: 10.1111/j.1475-6773.2005.00444.x.

[24] R. Steinbusch, I. Oostenbrink, J. Zuurbier, and G. Schaepkens, “The risk of upcoding in casemix systems: A comparative study,” Health Policy, vol. 64, no. 3, pp. 289–299, 2003, doi: 10.1016/S0168-8510(02)00152-2.

[25] S. Bowman, “Impact of electronic health record systems on information integrity: Quality and patient safety implications,” Perspectives in Health Information Management, vol. 10, pp. 1c–13c, 2013.

Downloads

Published

2025-08-07

How to Cite

Setyowati, D. N., Nuraini, N., Santi, M. W., & Suyoso, G. E. J. (2025). Analisis Faktor Penyebab Ketidaktepatan Kodefikasi Penyakit dan Tindakan di RSUD RAA Soewondo Pati. Health & Medical Sciences, 2(4), 1–15. https://doi.org/10.47134/phms.v2i4.748

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >> 

Similar Articles

<< < 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.