Hubungan Ketersediaan Informasi Medis dengan Keakuratan Kode Diagnosis Diabetes Mellitus berdasarkan ICD-10

Authors

  • Tyas Errica Dewi Maharani Politeknik Negeri Jember
  • Veronika Vestine Politeknik Negeri Jember
  • Novita Nuraini Politeknik Negeri Jember
  • Erna Selviyanti Politeknik Negeri Jember

DOI:

https://doi.org/10.47134/phms.v1i4.709

Keywords:

Kode Diagnosis, Informasi Medis, ICD-10, Rumah Sakit

Abstract

Ketersediaan informasi medis dapat mempengaruhi keakuratan kode. Ditemukan 13 (48,15%) kode DM yang tidak akurat dan ketersediaan informasi medis yang lengkap belum mencapai 100%. Informasi medis tersebut adalah pemeriksaan fisik tersedia 37,03%, pemeriksaan laboratorium tersedia 70,38%, dan diagnosis tersedia 3,7%. Ketidakakuratan kode berdampak pada kualitas data morbiditas yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan informasi medis dan akurasi kode diagnosis DM. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah rekam medis rawat inap tahun 2022 berdiagnosis DM, sampel berjumlah 235 rekam medis yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Persentase ketersediaan informasi medis anamnesis 76,17%, pemeriksaan fisik 96,17%, pemeriksaan laboratorium 17,87%, dan diagnosis 0,43%. Kode diagnosis DM yang tidak akurat berjumlah 97,02% (228 rekam medis). Uji statistik menggunakan uji korelasi koefisien kontingensi. Hasil uji menunjukkan dari ketersediaan 4 variabel (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan diagnosis), hanya variabel diagnosis yang memiliki hubungan dengan keakuratan kode DM dengan p 0,000 < 0,05 dan koefisien kontingensi 0,350. Kesimpulan, ketersediaan informasi medis diagnosis memiliki hubungan yang signifikan dengan keakuaratan kode DM. Peningkatan audit kelengkapan informasi medis terutama ketersediaan dan konsistensi diagnosis secara lengkap serta keterampilan koder perlu ditingkatkan karena berhubungan dengan keakuratan kode.

References

[1] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis,” Jakarta, Indonesia: Kemenkes RI, 2022.

[2] G. R. Hatta, Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan. Jakarta, Indonesia: UI Press, 2014.

[3] A. S. Wariyanti, “Hubungan antara kelengkapan informasi medis dengan keakuratan kode diagnosis pada dokumen rekam medis rawat inap di RSUD Kabupaten Karanganyar,” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia, 2014.

[4] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis,” Jakarta, Indonesia: Kemenkes RI, 2013.

[5] Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia. Jakarta, Indonesia: Depkes RI, 2006.

[6] R. N. Eni, “Hubungan antara kelengkapan informasi medis dengan keakuratan kode diagnosis tuberkulosis pada dokumen rekam medis rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi,” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia, 2016.

[7] T. U. Yeni and N. Rosmalina, “Hubungan kelengkapan informasi medis dengan keakuratan kode tuberculosis paru berdasarkan ICD-10 pada dokumen rekam medis rawat inap di BBKPM Surakarta,” in Prosiding Call for Paper SMIKNAS, Surakarta, Indonesia, pp. 146–156.

[8] Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia 2021. Jakarta, Indonesia: PERKENI, 2021.

[9] Agnes, “Mengenal beta keton, penanda diabetes tipe 1 pada sensor elektron,” Farmasetika, vol. 3, no. 1, pp. 20–22, 2018.

[10] International Diabetes Federation, IDF Diabetes Atlas, 10th ed. Brussels, Belgium: IDF, 2021.

[11] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2020. Jakarta, Indonesia: Kemenkes RI, 2021.

[12] W. Maryati, A. O. Wannay, and D. P. Suci, “Hubungan kelengkapan informasi medis dan keakuratan kode diagnosis diabetes mellitus,” Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, vol. 1, no. 2, pp. 96–108, 2018.

[13] W. Maryati, R. Rosita, and A. P. Zanuri, “Hubungan antara kelengkapan informasi medis dengan keakuratan kode diagnosis carcinoma mammae di RSUD Dr. Moewardi,” Infokes, vol. 9, no. 1, pp. 24–31, 2019.

[14] Norfai, Statistika Non Parametrik untuk Kesehatan (Teoritis, Sistematis dan Aplikatif). Klaten, Indonesia: Lakeisha, 2021.

[15] A. Setiyoargo, R. Ariyanti, and R. O. Maxelly, “Hubungan kelengkapan anamnesa formulir gawat darurat dengan ketepatan kode sebab eksternal kasus kecelakaan,” Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia, vol. 7, no. 1, pp. 48–55, 2021.

[16] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis,” Jakarta, Indonesia: Kemenkes RI, 2008.

[17] D. Harmanto, A. Budiarti, and A. Herisandi, “Gambaran kelengkapan informasi medis dan keakuratan kode diagnosis di Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu,” Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, vol. 7, no. 2, pp. 65–75, 2022.

[18] Lestari, Zulkarnain, and S. Aisyah, “Diabetes melitus: Review etiologi, patofisiologi, gejala, penyebab, cara pemeriksaan, cara pengobatan, dan cara pencegahan,” in Prosiding Biologi: Achieving the Sustainable Development Goals with Biodiversity in Confronting Climate Change, Makassar, Indonesia: UIN Alauddin Makassar, 2021.

[19] B. Jacobs, Beems, and T. M. van der Vliet, “Full Outline of UnResponsiveness score and Glasgow Coma Scale in medical patients with altered sensorium: Interrater reliability and relation to outcome,” Journal of Critical Care, vol. 28, no. 3, pp. 79–89, 2014.

[20] Agnes, “Mengenal beta keton, penanda diabetes tipe 1 pada sensor elektron,” Farmasetika, vol. 3, no. 1, pp. 20–22, 2018.

[21] C. Chairani and S. Karlina, “Pemeriksaan keton urine pada pasien diabetes melitus,” in Prosiding Seminar Kesehatan Perintis, Padang, Indonesia: STIKes Perintis Padang, vol. 3, no. 1, pp. 150–154, 2020.

[22] I. W. G. Arimbawa, N. P. L. Yunawati, and I. P. F. Paramita, “Hubungan kelengkapan penulisan diagnosis terhadap keakuratan kode ICD-10 kasus obstetri triwulan III pasien rawat inap di RSU Premagana,” Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, vol. 10, no. 1, pp. 31–35, 2022.

[23] World Health Organization, International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD-10), vols. 1–3. Geneva, Switzerland: WHO, 2016.

[24] E. R. Loren, R. A. Wijayanti, and Nikmatun, “Analisis faktor penyebab ketidaktepatan kode diagnosis penyakit diabetes mellitus di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya,” J-REMI: Jurnal Rekam Medik dan Informasi Kesehatan, vol. 1, no. 3, pp. 129–140, 2020.

[25] E. Purwanti, M. Novita, and P. Asgiani, “Ketepatan kode berdasarkan kelengkapan diagnosis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta,” in Prosiding Seminar Rekam Medis dan Manajemen Informasi, Jawa Tengah, Indonesia: PORMIKI DPD Jawa Tengah, 2017.

[26] M. D. Astuti and B. A. Pratama, “Korelasi antara ketersediaan informasi medis dengan ketepatan kode diagnosis bronchitis pada dokumen rekam medis rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karanganyar tahun 2019,” Indonesian Journal on Medical Science (IJMS), vol. 8, no. 2, pp. 204–210, 2019.

Downloads

Published

2024-08-28

How to Cite

Dewi Maharani, T. E., Vestine, V., Nuraini, N., & Selviyanti, E. (2024). Hubungan Ketersediaan Informasi Medis dengan Keakuratan Kode Diagnosis Diabetes Mellitus berdasarkan ICD-10. Health & Medical Sciences, 1(4), 41–55. https://doi.org/10.47134/phms.v1i4.709

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

<< < 2 3 4 5 6 7 8 9 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.